SUSTAINABLE
BUILDING
Konsep Dasar dan Pengembangan
Sustainable Building Berdasarkan Prinsip Holcim Sustainable Development
Studi Kasus : Low-energy
mediatheque Rio de Janeiro, Brazil (Global Holcim Awards 2009)
Abstrak
Kondisi alam yang sudah tidak bersahabat,
memaksa para manusia untuk berfikir bagaimana cara untuk mempertahankan sumber
daya alam yang tersisa di Bumi ini. Begitu pula dengan arsitek, yang dituntut
untuk menciptakan sebuah karya arsitektur yang turut serta dalam proses
keberlanjutan sumber daya alam tersebut. Sustainable building sebagai salah satu tema
arsitektur yang dikaitkan dengan tema ekologi atau lingkungan kini banyak
diterapkan pada karya arsitektur modern. Namun tidak hanya aspek lingkungan
saja yang perlu dipertahankan, tetapi ada aspek lainnya yang juga butuh untuk
dijaga keberlanjutannya. Sustainable development memberi jawaban atas kebutuhan
tersebut. Holcim sebagai penggagas prinsip-prinsip sustainable, ingin
mengetahui tingkat kepedulian para arsitek dalam rangka menjaga keberlanjutan
tersebut. Low-energy mediatheque
yang menjadi konsep dalam perancangan perpustakaan di Pontificial Catholic
University (PUC) di Rio de Janeiro menjadi salah satu peserta Global Holcim
Awards 2009. Melalui kajian ini diharapkan dapat diketahui seberapa besar aspek
sustainable development yang diterapkan, serta aspek-aspek mana saja yang
paling ditekankan pada perancangan ini.
Pendahuluan
Arsitektur
dengan bertemakan ekologi, dewasa ini sangatlah diminati dan banyak diterapkan
pada bangunan modern karya arsitek. Sustainable building menjadi salah satu
dari sekian banyaknya tema ekologi yang diterapkan dalam arsitektur disamping
tema-tema ekologi yang lain seperti : green architecture, zero energy building,
dan lain sebagainya. Meskipun terkesan sama dengan tema ekologi lainnya,
Sustainable Building memiliki cakupan yang lebih luas. Tidak hanya membahas
ekologi saja, tetapi sustainable juga memperhatikan keberlanjutan dari
aspek-aspek yang lain, di antaranya : aspek ekonomi, sosial budaya, dan lain
sebagainya. Jadi, Sustainable building ialah : sebuah tema yang berkaitan
dengan arsitektur untuk mempertahankan keberlanjutan dari sumber daya alam,
sosial budaya, serta perekonomian agar dapat bertahan lebih lama. Menurut
Holcim Sustainable development, ada lima prinsip dari sustainable building yang
disebut sebagai 5P, yaitu : planet, people, properity, progress, dan
proficiency. Dalam paper ini, akan dijelaskan pendekatan dan pengembangan
terhadap 5P dari sebuah karya arsitektur yang menjadi finalis dari Global
holcim Award 2009. Dari sini, akan dikaji mengenai prinsip 5P yang telah
diterapkan pada karya arsitektur tersebut sebagai sebuah bangunan yang
berkelanjutan.
Lighthouse for the Knowledge Society : Low-energy mediatheque Rio de Janeiro, Brazil
Low-energy
mediatheque merupakan sebuah metamorfosis dari bangunan perpustakaan yang
didirikan sebagai salah satu unit institusi dari Pontificial Catholic
University of Rio (PUC-Rio). Sebagai universitas swasta tertua di Brazil,
PUC-Rio ingin menciptakan sebuah perpustakaan yang tidak hanya sebagai ruang
membaca saja, tetapi juga sebagai ruang publik dengan berbagai fungsi penunjang
lainnya. Angelo Bucci, salah satu anggota SPBR yang merupakan tim kecil
aristektural studio di Sao Paulo ingin merancang sebuah bangunan perpusatakaan
yang melingkupi semua golongan. Tidak hanya penekanan terhadap buku dan
pembacanya saja, tetapi lebih ke korelasi sosial yang terjadi di dalamnya. Melalui
Low-Energy Mediatheque ini, diharapkan perpustakaan di PUC-Rio ini bisa menjadi
icon bagi universitas, serta simbol pengetahuan manusia yang melingkupi
lingkungan di sekitarnya.
Sesuai
dengan tema sayembara yang diadakan oleh Holcim, perancangan perpustakaan ini selayaknya
telah menerapkan konsep keberlanjutan yang telah disusun oleh Holcim
Sustainable developement yang disebut 5P. Sebagai finalis dari Global Holcim Award
2009, Low-Energy mediatheque tentunya tidak akan melewatkan salah satu dari
kelima aspek keberkanjutan tersebut. Namun, tetap saja di antara kelima aspek
tersebut terjadi penekanan di salah satunya. Melalui paper ini akan dikaji
seberapa besar penerapan konsep sustainable development, dan aspek mana saja
yang dominan di terapkan pada perpusatakaan ini.
Planet
Yang
dimaksud planet dalam hal ini adalah nilai keberlanjutan dari sebuah karya
arsitektur atas lingkungannya. Dengan kata lain seberapa besar bangunan
tersebut dapat berperan dalam mempertahankan sumber daya alam untuk
keberlanjutannya di masa mendatang. Dengan mengambil judul Low-Energy
Mediatheque, terlihat bahwa perancang perpustakaan ini ingin menerapkan
penggunaan energi yang seminimal mungkin demi ketersediaannya di masa depan. Konsep
keberlanjutan dari aspek lingkungan dapat diterapkan dari berbagai sisi. Dari
penggunaan lahan, mediatheque ini berada tepat di atas struktur bangunan lama
yang sudah ada dengan struktur penghubung hanya di empat titik. Dengan begitu
pengguanaan lahan sudah tidah lagi mencari lahan baru yang masih kosong, dan
tidak juga menghancurkan secara total struktur bangunan lama yang sudah ada.
Tidak ada perataan tanah, cut dan fill, ataupun tebang menebang pohon.
Dari
segi penggunaan energi, dengan judul Low-Energy Mediatheque berarti segala
macam energy yang dibutuhkan oleh manusia maupun bangunan itu sendiri haruslah
dilakukan secara hemat. Pada umumnya penggunaan energi yang paling tampak
adalah pencahayaan. Perpustakaan menuntut ruang baca memiliki pencahayaan yang
cukup agar para pembaca dapat membaca dengan jelas. Sisi utara dan selatan dari
ruang baca dibuat terbuka, sehingga perolehan cahaya matahari dari pagi hingga
sore memiliki intensitas yang sama. Selain untuk pencahayaan alami, bukaan di
sisi utara dan selatan juga berfunsi sebagai penghawaan, sehingga penggunaan
pendingin ruangan dapat diminimalisir. Bukaan di sisi utara dan selatan juga bertujuan
untuk menghindari cahaya matahari langsung dari sisi timur dan barat. Selain
itu, atap perpustakaan juga dibuat semacam kolam yang dituangkan pada pelapis
atap tersebut sebagai isolator thermal dari panas matahari tanpa mengurangi
cahayanya yang akan masuk ke dalam ruangan. Kolam tersebut juga berfungsi
sebagai pengendali suhu di dalam ruangan. Selain sebagai fungsi pengendali
thermal, kolam pada atap bangunan juga berfungsi sebagai water reservoir untuk
penggunaan darurat ketika terjadi kebakaran. Material dinding yang digunakan
adalah plat baja 5 mm yang diekspos sedemikian rupa, sehingga dapat mengontrol
suhu di dalam ruangan dengan menghalangi suhu luar yang panasnya hingga 40⁰ C masuk ke dalam ruangan. Pola ruangan yang
memanjang dengan posisi rak buku yang menempel pada dinding sehingga ruangan
terkesan luas.
Dari
aspek ekologi, Low-energy Mediatheque memang dirancang dengan kepedulian yang
tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan. Mulai dari penghematan penggunaan
listrik dalam berbagai kenyamanan pengguna hingga bentukan massa yang mengikuti
perilaku alam yang pada akhirnya juga dapat menguntungkan bagi pengguna itu
sendiri. Low-energy Mediatheque merupakan alternatif yang baik bagi bangunan
perpustakaan yang sustainable bagi lingkungan.
People
People adalah salah satu aspek dari
sustainable development yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia.
Penekanan aspek ini adalah mewujudkan sebuah karya arsitektur yang dapat
melayani segala kebutuhan manusia dari segi sosialnya dalam jangka waktu yang
lama. Perpustakaan dengan tema Low-Energy Mediatheque ini, pada mulanya
dirancang dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang haus akan ilmu
pengetahuan. Perpustakaan sebagai otak universal yang berisi kumpulan buku
tentang ilmu pengetahuan dan lain sebagainya menjadi tempat menarik bagi
orang-orang yang gemar membaca. PUC-Rio ingin menjadikan perpustakaannya agar
dikunjungi tidak hanya bagi yang gemar membaca saja, namun diharapkan semua
orang dapat menikmati ruangan perpustakaan sebagai tempat favoritnya. Maka dari
itu, perlu adanya fasilitas tambahan sebagai penunjang yang bisa dinikmati
semua orang, sehingga yang berkunjung di perpustakaan tidak hanya para kutu
buku saja. Seiring dengan perkembangan PUC-Rio sebagai kampus ternama di
Brazil, dibutuhkan tambahan ruang lagi sebagai galeri pameran serta auditorium.
Perkembangan teknologi dengan fasilitas-fasilitas yang memudahkan manusia kini
telah dikembangkan. Hal ini menuntut perpustakaan untuk menyediakan unit
komputer yang memiliki koleksi buku digital. Disediakan ruang untuk 800 unit
komputer terminal agar pengunjung dapat mengakses buku digital dengan mudah.
Perpustakaan juga membentuk sebuah space yang luas di ruang baca dengan bukaan
di arah utara dan selatan, serta balkon dengan view keluar yang menarik
semata-mata untuk memanjakan pengunjung agar perpustakaan dapat dinikmati oleh
semua golongan.
Fungsi terpadu yang dimiliki
perpustakaan ini, merupakan sebuah wujud nyata dalam penerapan aspek keberlanjutan dalam sisi sosialnya.
Lighthouse for the knowledge society, yang juga merupakan tema dari
perpustakaan ini merupakan bukti bahwa penekanan nilai keberlanjutan tidak
hanya pada aspek lingkungan dengan konsep low-energy-nya saja. Perpustakaan
sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dan sosial juga menekankan pada nilai
kepemusatan dalam pencarian ilmu serta interaksi sosial. Dengan adanya
perpustakaan ini diharapkan bisa menjadi sebuah plaza ilmu yang baru bagi para
mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Prosperity
Prosperity
merupakan sebuah aspek keberlajutan yang berhubungan dengan keuntungan dan
kemakmuran pemiliknya. Bangunan yang sustainable dari aspek prosperity haruslah
sanggup menghidupi perekonomian pemilik dari bangunan untuk jangka waktu yang
lama. Karena perpustakaan ini bukanlah karya arsitektur yang dirancang untuk
tujuan komersial, jadi aspek prosperity bisa dikatakan berbeda. Prosperity
dalam hal ini bisa berarti kemampuan perputakaan ini untuk dapat menarik
pengunjung sebanyak-banyaknya dalam jangka waktu yang lama. Hampir bisa
dikatakan mirip dengan aspek people pada sustainable development. Seperti makna
kata dari prosperity yang berarti kesejahteraan atau kemakmuran, perpustakaan
bisa dikatakan sejahtera jika ia dapat menarik dan menampung pengunjung
sebanyak-banyaknya. Dengan begitu, ketika perpustakaan beralih fungsi menjadi
pusat kegiatan komersial, pengunjung yang banyak tersebut akan menjadi sumber
keuntungan bagi pengelolanya.
Khusus
untuk perpustakaan, karena memang bukan sebuah bangunan yang difungsikan untuk
tujuan komersial, makna prosperity akan dimaknai berbeda dengan biasanya. Namun
di sisi lain, perpustakaan ini bisa menjadi sumber keuntungan bagi universitas
ketika bangunan tersebut sudah dikenal oleh masyarakat luas yang akan menambah
ketertarikan para calon mahasiswa untuk masuk ke universitas tersebut.
Progress
Progress
berarti inovasi yang ditawarkan dari karya arsitektur dan tentunya mengandung
unsur keberlanjutan. Inovasi merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah
diterapkan di mana pun. Inovasi tersebut bisa berasal dari segala aspek yang
berhubungan dengan aspek-aspek sustainable development yang telah dibahas
sebelumnya. Dari pengkajian aspek sustainable sebelumnya, inovasi yang
diterapkan pada perpustakaan ini lebih mengarah ke aspek planet. Beberapa
inovasi diterapkan guna menunjang low-energy building pada perpustakaan.
Seperti penerapan kolam pada atap bangunan yang sebelumnya hanya berfungsi
sebagai reservoir air yang akan digunakan untuk cadangan air. Pada perpustakaan
ini kolam lebih difungsikan sebagai thermal isolator untuk menjaga suhu di
dalam ruangan sehingga dapat meminimalkan penggunaan pendingin ruangan (AC). Inovasi
yang telah diterapkan pada perpustakaan ini bisa menjadi sebuah alternatif
dalam menghemat penggunaan energi pada karya arsitektur lainnya.
Proficiency
Pada
dasarnya proficiency merupakan syarat bagi semua karya arsitektur. Kandungan
unsur estetika yang menarik menjadi salah satu alasan mengapa sebuah bangunan
dirancang dengan menggunakan jasa arsitek. Aspek proficiency yang menjadi salah
satu aspek dalam sustainable building merupakan nilai estetika dari sebuah
bangunan yang dapat berlaku hingga jangka waktu yang lama. Dalam rancangan
low-energy mediatheque ini, aspek estetika diperlihatkan melalui bentuk
bangunan yang tidak biasa. Kesan melayang pada bangunan karena letaknya yang
berada tepat dibawah bangunan dengan disangga oleh kolom struktur di empat
titik. Ekspos material dinding yang berbahan plat baja 5 mm merupakan bentuk
penerapan filosofi dari gaya arsitektur modern di Brazil. Bentukan massa yang
mengikuti kondisi lansekap, selain bertujuan untuk mempertahankan keutuhan
vegetasi di sekitarnya, juga menimbulkan bentuk unik dan dinamis.
Fasad
bangunan secara umum tidaklah terlihat mencolok bahkan terkesan masif. Namun
bentuknya yang tidak biasa menjadikannya sebagai bangunan yang monumental.
Perancangan perpustakaan di PUC-Rio dengan konsep low-energy mediatheque,
selain mengunggulkan ide hemat energi juga berupaya untuk mempertahankan
kebudayaan arsitektur modern Brazil yang kini tergeser oleh gaya arsitektur
post-modern.
Kesimpulan
Perpustakaan PUC-Rio
de Janeiro dengan konsep Low-energy Mediatheque menjadi contoh dalam penerapan
aspek sustainable development. Aspek-aspek keberlanjutan yang tersusun atas
prinsip 5P, kesemuanya diterapkan pada karya arsitektur ini. Namun bagaimanapun
juga, ada penekanan di salah satu aspeknya. Dari konsep rancangan perpustakaan
yang mengusung judul Lighthouse for the
Knowledge Society : Low-energy
mediatheque, pada mulanya menekankan aspek people dengan harapan
perpustakaan dapat dinikmati oleh semua orang dari seluruh kalangan. Aspek
sosial juga erat kaitannya dengan lingkungan sebagai tempat tinggal bagi
manusia itu sendiri. Sehingga penghematan penggunaan energi pada bangunan juga
ditekankan sebagai penerapan aspek planet dalam sustainable development. Dengan
kata lain, aspek 5P yang paling terlihat pada karya arsitektur ini adalah aspek
people dan aspek planet.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar