Senin, 26 Maret 2012



SUSTAINABLE BUILDING
Konsep Dasar dan Pengembangan Sustainable Building Berdasarkan Prinsip Holcim Sustainable Development
Studi Kasus : Low-energy  mediatheque Rio de Janeiro, Brazil (Global Holcim Awards 2009)

Abstrak
            Kondisi alam yang sudah tidak bersahabat, memaksa para manusia untuk berfikir bagaimana cara untuk mempertahankan sumber daya alam yang tersisa di Bumi ini. Begitu pula dengan arsitek, yang dituntut untuk menciptakan sebuah karya arsitektur yang turut serta dalam proses keberlanjutan sumber daya alam tersebut.  Sustainable building sebagai salah satu tema arsitektur yang dikaitkan dengan tema ekologi atau lingkungan kini banyak diterapkan pada karya arsitektur modern. Namun tidak hanya aspek lingkungan saja yang perlu dipertahankan, tetapi ada aspek lainnya yang juga butuh untuk dijaga keberlanjutannya. Sustainable development memberi jawaban atas kebutuhan tersebut. Holcim sebagai penggagas prinsip-prinsip sustainable, ingin mengetahui tingkat kepedulian para arsitek dalam rangka menjaga keberlanjutan tersebut. Low-energy  mediatheque yang menjadi konsep dalam perancangan perpustakaan di Pontificial Catholic University (PUC) di Rio de Janeiro menjadi salah satu peserta Global Holcim Awards 2009. Melalui kajian ini diharapkan dapat diketahui seberapa besar aspek sustainable development yang diterapkan, serta aspek-aspek mana saja yang paling ditekankan pada perancangan ini.

Pendahuluan
Arsitektur dengan bertemakan ekologi, dewasa ini sangatlah diminati dan banyak diterapkan pada bangunan modern karya arsitek. Sustainable building menjadi salah satu dari sekian banyaknya tema ekologi yang diterapkan dalam arsitektur disamping tema-tema ekologi yang lain seperti : green architecture, zero energy building, dan lain sebagainya. Meskipun terkesan sama dengan tema ekologi lainnya, Sustainable Building memiliki cakupan yang lebih luas. Tidak hanya membahas ekologi saja, tetapi sustainable juga memperhatikan keberlanjutan dari aspek-aspek yang lain, di antaranya : aspek ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya. Jadi, Sustainable building ialah : sebuah tema yang berkaitan dengan arsitektur untuk mempertahankan keberlanjutan dari sumber daya alam, sosial budaya, serta perekonomian agar dapat bertahan lebih lama. Menurut Holcim Sustainable development, ada lima prinsip dari sustainable building yang disebut sebagai 5P, yaitu : planet, people, properity, progress, dan proficiency. Dalam paper ini, akan dijelaskan pendekatan dan pengembangan terhadap 5P dari sebuah karya arsitektur yang menjadi finalis dari Global holcim Award 2009. Dari sini, akan dikaji mengenai prinsip 5P yang telah diterapkan pada karya arsitektur tersebut sebagai sebuah bangunan yang berkelanjutan.
 
Lighthouse for the Knowledge Society : Low-energy  mediatheque Rio de Janeiro, Brazil
Low-energy mediatheque merupakan sebuah metamorfosis dari bangunan perpustakaan yang didirikan sebagai salah satu unit institusi dari Pontificial Catholic University of Rio (PUC-Rio). Sebagai universitas swasta tertua di Brazil, PUC-Rio ingin menciptakan sebuah perpustakaan yang tidak hanya sebagai ruang membaca saja, tetapi juga sebagai ruang publik dengan berbagai fungsi penunjang lainnya. Angelo Bucci, salah satu anggota SPBR yang merupakan tim kecil aristektural studio di Sao Paulo ingin merancang sebuah bangunan perpusatakaan yang melingkupi semua golongan. Tidak hanya penekanan terhadap buku dan pembacanya saja, tetapi lebih ke korelasi sosial yang terjadi di dalamnya. Melalui Low-Energy Mediatheque ini, diharapkan perpustakaan di PUC-Rio ini bisa menjadi icon bagi universitas, serta simbol pengetahuan manusia yang melingkupi lingkungan di sekitarnya.
Sesuai dengan tema sayembara yang diadakan oleh Holcim, perancangan perpustakaan ini selayaknya telah menerapkan konsep keberlanjutan yang telah disusun oleh Holcim Sustainable developement yang disebut 5P. Sebagai finalis dari Global Holcim Award 2009, Low-Energy mediatheque tentunya tidak akan melewatkan salah satu dari kelima aspek keberkanjutan tersebut. Namun, tetap saja di antara kelima aspek tersebut terjadi penekanan di salah satunya. Melalui paper ini akan dikaji seberapa besar penerapan konsep sustainable development, dan aspek mana saja yang dominan di terapkan pada perpusatakaan ini.

Planet
Yang dimaksud planet dalam hal ini adalah nilai keberlanjutan dari sebuah karya arsitektur atas lingkungannya. Dengan kata lain seberapa besar bangunan tersebut dapat berperan dalam mempertahankan sumber daya alam untuk keberlanjutannya di masa mendatang. Dengan mengambil judul Low-Energy Mediatheque, terlihat bahwa perancang perpustakaan ini ingin menerapkan penggunaan energi yang seminimal mungkin demi ketersediaannya di masa depan. Konsep keberlanjutan dari aspek lingkungan dapat diterapkan dari berbagai sisi. Dari penggunaan lahan, mediatheque ini berada tepat di atas struktur bangunan lama yang sudah ada dengan struktur penghubung hanya di empat titik. Dengan begitu pengguanaan lahan sudah tidah lagi mencari lahan baru yang masih kosong, dan tidak juga menghancurkan secara total struktur bangunan lama yang sudah ada. Tidak ada perataan tanah, cut dan fill, ataupun tebang menebang pohon.
Dari segi penggunaan energi, dengan judul Low-Energy Mediatheque berarti segala macam energy yang dibutuhkan oleh manusia maupun bangunan itu sendiri haruslah dilakukan secara hemat. Pada umumnya penggunaan energi yang paling tampak adalah pencahayaan. Perpustakaan menuntut ruang baca memiliki pencahayaan yang cukup agar para pembaca dapat membaca dengan jelas. Sisi utara dan selatan dari ruang baca dibuat terbuka, sehingga perolehan cahaya matahari dari pagi hingga sore memiliki intensitas yang sama. Selain untuk pencahayaan alami, bukaan di sisi utara dan selatan juga berfunsi sebagai penghawaan, sehingga penggunaan pendingin ruangan dapat diminimalisir. Bukaan di sisi utara dan selatan juga bertujuan untuk menghindari cahaya matahari langsung dari sisi timur dan barat. Selain itu, atap perpustakaan juga dibuat semacam kolam yang dituangkan pada pelapis atap tersebut sebagai isolator thermal dari panas matahari tanpa mengurangi cahayanya yang akan masuk ke dalam ruangan. Kolam tersebut juga berfungsi sebagai pengendali suhu di dalam ruangan. Selain sebagai fungsi pengendali thermal, kolam pada atap bangunan juga berfungsi sebagai water reservoir untuk penggunaan darurat ketika terjadi kebakaran. Material dinding yang digunakan adalah plat baja 5 mm yang diekspos sedemikian rupa, sehingga dapat mengontrol suhu di dalam ruangan dengan menghalangi suhu luar yang panasnya hingga 40⁰ C masuk ke dalam ruangan. Pola ruangan yang memanjang dengan posisi rak buku yang menempel pada dinding sehingga ruangan terkesan luas.
            Dari aspek ekologi, Low-energy Mediatheque memang dirancang dengan kepedulian yang tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan. Mulai dari penghematan penggunaan listrik dalam berbagai kenyamanan pengguna hingga bentukan massa yang mengikuti perilaku alam yang pada akhirnya juga dapat menguntungkan bagi pengguna itu sendiri. Low-energy Mediatheque merupakan alternatif yang baik bagi bangunan perpustakaan yang sustainable bagi lingkungan.

People
            People adalah salah satu aspek dari sustainable development yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia. Penekanan aspek ini adalah mewujudkan sebuah karya arsitektur yang dapat melayani segala kebutuhan manusia dari segi sosialnya dalam jangka waktu yang lama. Perpustakaan dengan tema Low-Energy Mediatheque ini, pada mulanya dirancang dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang haus akan ilmu pengetahuan. Perpustakaan sebagai otak universal yang berisi kumpulan buku tentang ilmu pengetahuan dan lain sebagainya menjadi tempat menarik bagi orang-orang yang gemar membaca. PUC-Rio ingin menjadikan perpustakaannya agar dikunjungi tidak hanya bagi yang gemar membaca saja, namun diharapkan semua orang dapat menikmati ruangan perpustakaan sebagai tempat favoritnya. Maka dari itu, perlu adanya fasilitas tambahan sebagai penunjang yang bisa dinikmati semua orang, sehingga yang berkunjung di perpustakaan tidak hanya para kutu buku saja. Seiring dengan perkembangan PUC-Rio sebagai kampus ternama di Brazil, dibutuhkan tambahan ruang lagi sebagai galeri pameran serta auditorium. Perkembangan teknologi dengan fasilitas-fasilitas yang memudahkan manusia kini telah dikembangkan. Hal ini menuntut perpustakaan untuk menyediakan unit komputer yang memiliki koleksi buku digital. Disediakan ruang untuk 800 unit komputer terminal agar pengunjung dapat mengakses buku digital dengan mudah. Perpustakaan juga membentuk sebuah space yang luas di ruang baca dengan bukaan di arah utara dan selatan, serta balkon dengan view keluar yang menarik semata-mata untuk memanjakan pengunjung agar perpustakaan dapat dinikmati oleh semua golongan.
            Fungsi terpadu yang dimiliki perpustakaan ini, merupakan sebuah wujud nyata dalam penerapan  aspek keberlanjutan dalam sisi sosialnya. Lighthouse for the knowledge society, yang juga merupakan tema dari perpustakaan ini merupakan bukti bahwa penekanan nilai keberlanjutan tidak hanya pada aspek lingkungan dengan konsep low-energy-nya saja. Perpustakaan sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dan sosial juga menekankan pada nilai kepemusatan dalam pencarian ilmu serta interaksi sosial. Dengan adanya perpustakaan ini diharapkan bisa menjadi sebuah plaza ilmu yang baru bagi para mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Prosperity
Prosperity merupakan sebuah aspek keberlajutan yang berhubungan dengan keuntungan dan kemakmuran pemiliknya. Bangunan yang sustainable dari aspek prosperity haruslah sanggup menghidupi perekonomian pemilik dari bangunan untuk jangka waktu yang lama. Karena perpustakaan ini bukanlah karya arsitektur yang dirancang untuk tujuan komersial, jadi aspek prosperity bisa dikatakan berbeda. Prosperity dalam hal ini bisa berarti kemampuan perputakaan ini untuk dapat menarik pengunjung sebanyak-banyaknya dalam jangka waktu yang lama. Hampir bisa dikatakan mirip dengan aspek people pada sustainable development. Seperti makna kata dari prosperity yang berarti kesejahteraan atau kemakmuran, perpustakaan bisa dikatakan sejahtera jika ia dapat menarik dan menampung pengunjung sebanyak-banyaknya. Dengan begitu, ketika perpustakaan beralih fungsi menjadi pusat kegiatan komersial, pengunjung yang banyak tersebut akan menjadi sumber keuntungan bagi pengelolanya.
Khusus untuk perpustakaan, karena memang bukan sebuah bangunan yang difungsikan untuk tujuan komersial, makna prosperity akan dimaknai berbeda dengan biasanya. Namun di sisi lain, perpustakaan ini bisa menjadi sumber keuntungan bagi universitas ketika bangunan tersebut sudah dikenal oleh masyarakat luas yang akan menambah ketertarikan para calon mahasiswa untuk masuk ke universitas tersebut.

Progress
Progress berarti inovasi yang ditawarkan dari karya arsitektur dan tentunya mengandung unsur keberlanjutan. Inovasi merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah diterapkan di mana pun. Inovasi tersebut bisa berasal dari segala aspek yang berhubungan dengan aspek-aspek sustainable development yang telah dibahas sebelumnya. Dari pengkajian aspek sustainable sebelumnya, inovasi yang diterapkan pada perpustakaan ini lebih mengarah ke aspek planet. Beberapa inovasi diterapkan guna menunjang low-energy building pada perpustakaan. Seperti penerapan kolam pada atap bangunan yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai reservoir air yang akan digunakan untuk cadangan air. Pada perpustakaan ini kolam lebih difungsikan sebagai thermal isolator untuk menjaga suhu di dalam ruangan sehingga dapat meminimalkan penggunaan pendingin ruangan (AC). Inovasi yang telah diterapkan pada perpustakaan ini bisa menjadi sebuah alternatif dalam menghemat penggunaan energi pada karya arsitektur lainnya.



Proficiency
Pada dasarnya proficiency merupakan syarat bagi semua karya arsitektur. Kandungan unsur estetika yang menarik menjadi salah satu alasan mengapa sebuah bangunan dirancang dengan menggunakan jasa arsitek. Aspek proficiency yang menjadi salah satu aspek dalam sustainable building merupakan nilai estetika dari sebuah bangunan yang dapat berlaku hingga jangka waktu yang lama. Dalam rancangan low-energy mediatheque ini, aspek estetika diperlihatkan melalui bentuk bangunan yang tidak biasa. Kesan melayang pada bangunan karena letaknya yang berada tepat dibawah bangunan dengan disangga oleh kolom struktur di empat titik. Ekspos material dinding yang berbahan plat baja 5 mm merupakan bentuk penerapan filosofi dari gaya arsitektur modern di Brazil. Bentukan massa yang mengikuti kondisi lansekap, selain bertujuan untuk mempertahankan keutuhan vegetasi di sekitarnya, juga menimbulkan bentuk unik dan dinamis.
Fasad bangunan secara umum tidaklah terlihat mencolok bahkan terkesan masif. Namun bentuknya yang tidak biasa menjadikannya sebagai bangunan yang monumental. Perancangan perpustakaan di PUC-Rio dengan konsep low-energy mediatheque, selain mengunggulkan ide hemat energi juga berupaya untuk mempertahankan kebudayaan arsitektur modern Brazil yang kini tergeser oleh gaya arsitektur post-modern.

Kesimpulan
Perpustakaan PUC-Rio de Janeiro dengan konsep Low-energy Mediatheque menjadi contoh dalam penerapan aspek sustainable development. Aspek-aspek keberlanjutan yang tersusun atas prinsip 5P, kesemuanya diterapkan pada karya arsitektur ini. Namun bagaimanapun juga, ada penekanan di salah satu aspeknya. Dari konsep rancangan perpustakaan yang mengusung judul Lighthouse for the Knowledge Society : Low-energy  mediatheque, pada mulanya menekankan aspek people dengan harapan perpustakaan dapat dinikmati oleh semua orang dari seluruh kalangan. Aspek sosial juga erat kaitannya dengan lingkungan sebagai tempat tinggal bagi manusia itu sendiri. Sehingga penghematan penggunaan energi pada bangunan juga ditekankan sebagai penerapan aspek planet dalam sustainable development. Dengan kata lain, aspek 5P yang paling terlihat pada karya arsitektur ini adalah aspek people dan aspek planet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar